“Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Bokep Tante Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Tak lama kemudian, telapak tangan lisa yang hangat meraih pergelangan tanganku. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Lisa mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.“Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama satu minggu lebih. Setelah puas kami pun pulang




















