“Si Nina, yang tadi. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Bokep Montok Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Haruskah kujawab sapaan itu? Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Ah sial. Sial. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Ia menyentuhnya. Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Jendela kubuka. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ke bawah: Tidak. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan.




















