Akhirnya rangkulannya terlepas. Bokepindo Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Kami berangkat pulang. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali.Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas.Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Kami berpelukan, mengatur napas kami.




















