Namun sebuah telpon dari kak Dewi membuat semuanya lebih baik,
“Tedy kamu kemana aja ? Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Vidio Bokep Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Dewi. Aku mengambil remote TV. Kemaluan kami kembali bergesekan. Seperti Kak Dewi !”,
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja. Aku ingin membantunya. “Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam. Bener- benar cantik. “ng…mmmm kenapa Tedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”,
“Maksudnya apa ?”,
“Tapi kak Dewi jangan marah yah !”,
“Akhir-akhir ini, tedy sering error. Sialan ! Dan aku mulai meracau…
“Jangan !”, kak Dewi menahan tubuhku. Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Kumatikan TV. “Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,
“Begini…!”,
“Ya…ah… shhh… kak Dewi…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan.




















