“Hei, Roy.. Saat itu dapat kulihat dengan jelas betapa tulang giginya telah habis, membuatku menjadi geli menahan tawa, apalagi ketika ia tersenyum-senyum memperhatikan bagian tubuh di bawah perutku. Bokeb Aneh, pikirku. Ia lalu meneruskan kata-katanya. Matahari belum bersinar lama. Aku menjadi sedikit terkejut, sekaligus menemukan jawaban atas keganjilan yang kurasakan. Matahari belum bersinar lama. Aku bangkit dari tempat tidur. Daya sedotnya begitu sempurna dan memiliki irama yang teratur dan konstan. Kurasakan pinggangku sedikit linu. Jam dinding kamar itu sudah menunjukan pukul duabelas kurang sedikit. Hari masih pagi. Pikiranku menjadi teringat kembali pada mimpi yang sempat kualami.Saat itu aku berada di sebuah bar.




















