Menggoda Di Dapur

Tak peduli dgn etika, dgn norma-norma bercinta, dgn sakral dalem percintaan.Aku hanya peduli dgn kedua belah paha mulus yg akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yg akan menjambak rambutku, telapak tangan yg akan menekan bagian belakang kepalaku, aroma semerbak yg akan menerobos hidung serta memenuhi rongga dadaku, kelembutan serta kehangatan dua buah bibir kewanitaan yg menjepit lidahku, serta tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yg harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yg sudah sangat ingin kucucipi.Di kolong meja, Bu Tiara membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Bokepindo Hadiah yg bisa menyejukkan kerongkonganku yg kering. Tak ada komentar penolakan. Ia tersenyum menatap hidungku yg telah licin serta basah.“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.“Segar!” Bu Tiara tertawa kecil.

Menggoda Di Dapur