Tunggu apa lagi. Jagain sebentar ya..! Bokep Crot Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Pijitan turun ke perut. Aku harus, harus, harus..! “ Iya itu, bener … ”
Seketika itu juga aku menutup jendela angkot dan melihat kearahnya lagi,
“ Terima kasih, ” ucapnya. Hap. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. “ Besok saja Sayang..! Aku tersenyum. Selesai dipijat dia tidak meninggalkan aku. Dia mencari-cari. Dia sudah membereskan peralatan pijat. ”
Dia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. ” katanya manja lalu melepaskan sergapanku. Sekali. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Mengapa kancing baju cuma tujuh? Bibirku melumat bibirnya. Dadaku mulai berdegup lagi. Ayo..! Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot.




















