Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. yang banyak…” kataku sambil menunjuk kemaluannya. Bokep Mama Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Kusodok lagi perlahan. Biar saja, pikirku dalam hati. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Dia membalas. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku. “Bawa ke Pinang Inn… cepat!” bentakku lagi.Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).“Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku”, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam.




















