“Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa..”
“Engng.., dua lima”, kataku. Striptease di Fort-street selandia sana masih kalah jauh dengan yang satu ini. Bokeb Kupandangi…, sengaja tak kucium, aku tahu Ana menunggunya. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah kutelusuri pola kehidupannya. Dari arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak berkedip ke arah receptionist itu. “Heh.., heh.., jangan sembarangan ya Mbak..”, kataku dalam hati. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena tergoda ingin mencoba lebih “menyelami” pekerjaan mereka sebagai pramugari. “Ooo…”
“Ya udah, nanti aku yang telpon kamu.., Oke?”
“Iya Ias”
“Namamu siapa ?”, tanyaku sambil melirik kartu nama di dada kirinya.




















