“Menurutmu?” balas Rini, muka Rini merah dan rambutnya memerah, rasanya terkena sinar matahari cukup lama. Kedua alis Rini mengkerut, kini aku berada dalam kecepatan maksimal. Bokep Colmek “Pagi Rini,” sapaku sambil mendekatinya dengan tubuh telanjang. Ia tak menjawab namun aku tahu jawabannya dari jilatan lidahnya. Bibirnya tersenyum kecil, wajahnya kusut seperti bajunya, dan roknya terangkat, sampai 1/5 celana dalamnya yang bewarna kuning terlihat jelas. Boro-boro diberi latihan vokal, kami dipaksa untuk menjadi model, main di iklan IM3…. “Hahahaha,” balasnya, “Aku ini sudah banyak pengalaman lho, hahahaha.” Bullshit, pikirku, sekarang aku mengerti kalau dia masih kecewa. Sepertinya aku pernah melihatnya di butik baru-baru iniRini berdiri membelakangiku, entah apa yang ada dipikirannya namun kami berada di tengah-tengah ruang pembuangan sampah Aku berjalan mendekatinya, kumendengar tangisannya. Aku sampai stress dan kurang semangat.




















