Pagi itu terasa akumulasinya. “Ini uangnya saya ambil den, kelak diusahain dikembaliin kok..” Ujarnya pelan, suaranya berat,hidungnya semacam tersumbat cairan. Bokeb Aku kembali menciumi bibir itu, tidak ada balasan berarti darinya. “Mmm..mbak ikhlas kok den..salah mbak juga..telahlah gak papa..”jawabnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela. Matanya sembab, dirinya duduk di kursi di sampingku, tanpa bicara. Mbak Juminten memutar-mutar pinggulnya berusaha segera meraih akhir perjuangan. Untuk kebutuhan bersih-bersih rumah serta mencuci pakaian aku mempekerjakan seorang pesuruh harian, mbak Juminten.Wanita ini berumur 44 tahun, hitam manis, tinggi skitar 160 serta tubuhnya sedikit gempal. “Selain urusan rumah terbukti apa lagi yg dapat mbak kasih ke saya?” Kalimatku mulai menjebak. Jam 9 pagi, wanita itu telah datang semacam biasanya. “Nikmatilah mbak,nikmati yg telah lama tidak kau rasakan.




















