aku menyuruh dia masuk dan kita pun duduk berdua di sofa ruang tamu. Memang sebenarnya dangdut itu bukanlah selera aku, namun apa boleh buat aku juga tak ada kerjaan di tempat ini. Bokeb aku berjalan kedepan untuk membukakan pintu karena pembantu memang sengaja aku suruh tidur duluan. Beberapa kali aku menangkap pandangan Erny yang melirik kepada aku. Beliau juga sering mengadakan hiburan sebagai kontribusi kembali dia kepada para warga. Tiba-tiba dari pinggir mataku, aku melihat sebuah gerakan. Erny yang nafasnya masih memburu menoleh kebelakang dengan tatapan sayu dan pasrah. Dia pun sempat bergaya mengangkangkan kaki dan bergerak maju mundur, yang membuat para pemuda disana berteriak-teriak.




















