Dan tangannya yang terikat erat benar-benar membuat Dhea sempurna buatku. Ia menatap mataku, air mata membuat pipi Dhea berkilat tertimpa cahaya lampu kamarnya. Bokeb Suara jendela yang terdongkel terdengar seperti letusan membuatku harus diam tidak bergerak selama setengah jam menunggu apakah ada penghuni rumah yang terbangun. Tapi bagian yang paling susah sudah berhasil aku lampaui. Buah dada Dhea masih kecil, yang membuatku makin birahi. Dhea tidak meronta-ronta, soalnya aku masih pegang belatiku, tapi terus menangis tersedu-sedu, dan mengerang-erang, berusaha berkata sesuatu. Kepala Dhea terbenam ke lantai. Kedengarannya bengis dan kejam. Dan Dhea sendiri sekarang mendengking-dengking seperti anak anjing yang ketakutan. Ini membuat erangan Dhea makin keras sehingga aku harus mengancamnya lagi dengan belatiku. Mata Dhea terbuka menatapku tidak bisa bernafas.




















