Pada saat itulah aku menepuk tangan kiri Prima sambil berkata setengah berbisik,
“Jangan lupa…setelah Nanda tidur, bunda tunggu ya.”
“Iya Bunda,” Prima mengangguk sopan. Bokep Family Lalu…apakah perkawinanku dengan Kang Eman berlangsung mulus tanpa cela sedikit pun ? Akhir-akhir ini keliatannya kayak yang murung gitu ? Ada apa ?”
“Ah…gak ada apa-apa,” sahut Prima sambil menunduk. Dan ia tersenyum, lalu memelukku juga dengan hangatnya. Yang jelas, ketika kami sama- sama tiduran dengan posisi miring dan berhadapan muka, kulihat senyum Prima sudah tersungging lagi di mulutnya. Aku pun sudah telanjur ingin melihat Prima ceria seperti dulu lagi. Dan mencolek-colekkan moncongnya ke mulut kemaluanku. “Sikapmu itu lho…kenapa belakangan ini kamu keliatan murung terus ? Maka terjadilah proses pendek tapi bermakna besar bagi kenasibanku ini. Saking asyiknya memandang bayanganku di cermin besar itu hingga tidak terdengar bunyi langkah Prima memasuki kamarku.




















